Kamis, 20 Oktober 2016

SEBONGKAH CINTA SEJATI

Beliau adalah teman, pemimpin, saudara curhatan, yang saya cintai sebelumnya saya tak perna kenal, bahkan tak perna tegur sapa dengan bertatap muka yang paling manis.😊

Ketika tahun 1996 taaruf, langsung menikah di tegah malam, disertai kokok ayam menjemput subuh. Pada umunya di kampung jika taaruf membawah oleh oleh tangan seperti gula, lemet, gemblong, pisang dll. Beda dengan yang paling beda apa yang saya  jalankan ketika taaruf pada calon suami saya, hehe saya harus dipaksa ortu untuk menemui calon suami, saya tak bisa berkutik bahkan tak bisa menjawab pertanyaan calon suami walaupun hanya satu kalimat aja. Dek dekan jatung hatiku ketika berhadapan calon suami yang belum perna saya kenal bahkan tak . Gemetar, merinding, grogi semuanya menjadi satu dalam tubuhku. Saya tak bisa bergerak sedikitpun untuk menggeser tempat duduk, begitulah gemetarnya badan yang saya rasakan disertai keringat dingin di telapak tangan ku, dengan itu saya menyerah aja deh 😄😅, apapun yang terjadi saya ucapkan Bismillah. . . .

Malam sekitar jarum jam menunjukkan di angka 3 calon suami datang mengahadap di depan saya, malu rasa bercampur emosi hati ini hingga wajah saya pun menunduk terus, tak kuasa mengangkat wajah untuk menikmati gantengnya calon suami saya, padahal dalam hati kecil saya pingin bangeet lihat gimana wajah nya. 😃 Intip intip di bilik krudung panjang saya untuk melihat wajah calon saya, sembari meneteskan air mata hingga dua pipih basah. Kenapa saya hingga meneteskan air mata? Karena kagetnya mau di nikahkan padahal masih ingin melanjutkan kuliah 😂.

Setelah taaruf pada malam hari itu, kita langsung dipersiapkan untuk ijab qabul nya, persiapkan dua saksi laki laki keluarga dari calon suami, ayah serta mbah kung yang menikahkan malam itu. Hanya bekal cinta kita jalankan rumah tangga ini, bersamaan dengan kerja, kuliah, dan usia masih begitu muda untuk jalankan rumah tangga. Awalnya menjalankan nya saya kekuk dan bingung apa yang harus saya lakukan ketika saya berkumpul dengan suami dan keluar kelurganya. Semuanya saya bisa menjalankannya dengan baik, sabar, cinta dan sayang sesama suami dan keluarga suami. Semuanya saya anggap sebagai keluarga sendiri. Pahit getir dan manisnya saya telan dengan rasa bahagia agar keluarga saya samara hingga nafaskan memisahkannya. Semuanya itu dari awal dengan bimbingan suami tercinta. Dalam rumah tangga tentunya badai pun di rasa, baik kecil ataupun besar, semuanya itu bisa kita jalankan dengan baik asal diri kita bisa menata hati, sabar, iklas, tawakkal dan istiqomah apapun bentuk badai yang dasyat akan berlalu. Kunci nya adalah komunikasih dengan hangat dan cinta penuh kasih sayang, saling menerima apa adanya pasangan kita, baik itu kekuatangan atau kelebihan pasangan kita, semuanya itu bisa menyatu dalam jiwa raga kita insyaAllah.

Dunia ini hanya persinggahan, yang kekal hanya akhiratnya, persiapkan diri lebih banyak amal, banyak ibadah, banyak syukur agar kelak kita menjadi hamba yang beruntung dunia akhirat. Anak anak kita bisa menjadi anak sholeh berbakti dan mendoakan ortunya hingga ortunya dalam kubur. Anak yang mendoakan ortunya selamanya adalah infestasi ortu yang tiada nilainya sebanding dengan harta yang berlimpah ruah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar